riset

Korea Selatan Petakan Masa Depan AI Bersama NVIDIA

Presiden Jae Myung Lee dan pemimpin bisnis Korea Selatan bertemu NVIDIA di San Francisco, mengumumkan laboratorium riset AI serta memperkuat kolaborasi di sektor memori dan AI agentik.

08:35 WIB · 25 Jul3 menit bacaRedaksi LintasAI
Jensen Huang bersama para pemimpin bisnis Korea Selatan di Silicon Valley

Di AI Summit San Francisco, Korea Selatan memamerkan peta jalan AI-nya melalui serangkaian pertemuan dan pengumuman bersama NVIDIA. Mengikuti kunjungan CEO NVIDIA Jensen Huang ke Korea bulan lalu, Presiden Jae Myung Lee dan para pemimpin bisnis dari Samsung, Hyundai, NAVER, dan SK Group berkumpul untuk mendorong ambisi negara menjadi pusat inovasi AI global. Salah satu hasil utama adalah pendirian laboratorium riset AI pertama antara universitas Korea dan perusahaan teknologi global: kolaborasi antara NVIDIA dan KAIST untuk mengembangkan AI agentik.

Lab Riset Bersama NVIDIA-KAIST: Pertama di Korea, Fokus pada AI Agentik

NVIDIA dan Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) resmi mendirikan laboratorium riset AI bersama di Sekolah Pascasarjana AI Kim Jaechul, KAIST, Seoul. Laboratorium ini menjadi yang pertama antara universitas di Korea Selatan dan perusahaan teknologi global mana pun. "Kami akan membangun program riset AI akademis yang kokoh, menggabungkan keahlian AI full-stack NVIDIA, model terbuka Nemotron, dan komputasi cloud AI mitra dengan talenta ilmiah kelas dunia di KAIST," demikian pernyataan NVIDIA dalam blog resminya. Fokus utama laboratorium adalah pengembangan AI agentik, yaitu sistem AI yang mampu bertindak secara otonom untuk menyelesaikan tugas-tugas kompleks. Langkah ini memperkuat posisi Korea Selatan dalam riset AI global, sekaligus memanfaatkan model-model AI terbuka (open source) dari NVIDIA yang dapat diakses oleh komunitas riset luas.

NVIDIA dan SK Group Perkuat Kerja Sama Memori AI

Menjelang KTT AI, Jensen Huang menggelar jamuan makan malam dengan Chairman SK Group Chey Tae-won beserta jajaran SK hynix, SK Telecom, dan tim NVIDIA di Woodside, California. Kedua perusahaan telah menjalin kemitraan jangka panjang dan pada Juni lalu memperluas kolaborasi untuk mengembangkan memori bagi platform NVIDIA, mencakup infrastruktur AI, AI personal, dan AI fisik. SK Telecom juga mengumumkan rencana pembangunan infrastruktur AI guna mendorong inovasi di bidang robotika dan AI fisik di Korea Selatan. Ini merupakan perluasan dari kerja sama yang sudah berlangsung lama, dan mencakup solusi memori untuk seluruh spektrum AI, dari pusat data hingga perangkat edge.

Audiensi Raksasa Teknologi Korea di Kampus NVIDIA

Chairman Eksekutif Samsung Lee Jae-yong, Chairman Eksekutif Hyundai Motor Group Euisun Chung, dan pendiri NAVER Lee Hae-jin bertandang ke kantor pusat NVIDIA di Santa Clara, California. Mereka berfoto bersama Jensen Huang di lobi gedung Endeavor, yang desain segitiganya merepresentasikan elemen dasar grafis komputer modern, dengan latar para karyawan yang sedang bekerja. Kunjungan ini mencerminkan minat mendalam perusahaan-perusahaan Korea Selatan untuk mengintegrasikan AI ke dalam produk dan layanan mereka, mulai dari smartphone, kendaraan listrik, hingga platform internet. Presiden Lee juga dijadwalkan bertemu langsung dengan Huang selama KTT, menegaskan dukungan penuh pemerintah Korea Selatan terhadap transformasi digital berbasis AI.

Potensi Dampak bagi Ekosistem AI di Indonesia

Kendati Indonesia tidak disebut secara langsung, beberapa aspek dari perkembangan ini dapat membuka peluang bagi pengembang dan perusahaan AI Tanah Air. Pertama, model AI terbuka (open-source) seperti Nemotron yang diandalkan dalam riset bersama NVIDIA-KAIST dapat diadopsi oleh para peneliti dan startup Indonesia untuk menciptakan aplikasi AI agentik lokal, misalnya di bidang layanan pelanggan atau otomatisasi industri. Kedua, kolaborasi di sektor memori dan infrastruktur AI antara SK Group dan NVIDIA dapat mempercepat ketersediaan perangkat keras AI yang lebih efisien, yang pada gilirannya memungkinkan perusahaan Indonesia menjalankan model AI canggih dengan biaya lebih rendah. Ketiga, pola kemitraan tripartit antara pemerintah, universitas, dan perusahaan teknologi global bisa menjadi contoh untuk membangun ekosistem riset dan inovasi AI yang berkelanjutan di Indonesia.

Artikel terkait