riset

F-16 Terbang Mandiri Pakai AI: Uji Coba DARPA-AU AS

DARPA dan Angkatan Udara AS terbangkan F-16 yang dimodifikasi dengan kit otonomi VENOM untuk uji coba kendali AI, tonggak penting pengembangan pesawat tempur otonom.

12:29 WIB · 24 Jul3 menit bacaRedaksi LintasAI
F-16 yang dimodifikasi dengan kit otonomi VENOM menjalani uji terbang dengan agen AI.

DARPA bersama Angkatan Udara Amerika Serikat (AU AS) berhasil menerbangkan jet tempur F-16 yang dikendalikan sepenuhnya oleh agen kecerdasan buatan (AI). Uji coba yang berlangsung di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, pada Juli 2026 ini menjadi tonggak bersejarah: untuk pertama kalinya pesawat tempur standar operasional AU AS dimodifikasi menjadi platform terbang otonom dengan infrastruktur yang memungkinkan pengembangan AI tempur secara cepat dan skalabel.

Apa Itu Program VENOM dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Program Viper Experimentation and Next‑generation Operations Model (VENOM) merupakan kolaborasi antara AU AS dan DARPA, yang bermula dari inisiatif Air Combat Evolution (ACE). Sebelumnya, ACE telah membuktikan bahwa agen AI mampu menerbangkan jet tempur eksperimental X‑62A VISTA dalam duel udara jarak dekat. Kini, VENOM membawa kemampuan itu ke armada F‑16 standar melalui pemasangan VENOM Autonomy Kit (VAK).

VAK adalah kit antarmuka baru yang menghubungkan sistem kendali terbang dan misi pesawat dengan agen AI, tanpa mengubah perangkat lunak inti F‑16. Pilot dapat beralih antara kendali manusia dan kendali AI hanya dengan membalik sakelar, memungkinkan eksperimen human‑on‑the‑loop, pilot tetap di kokpit untuk memantau dan siap mengambil alih kapan saja. Pendekatan ini menjamin keamanan sekaligus menyediakan jalur efisien untuk menyempurnakan AI tempur secara iteratif.

Langkah Selanjutnya: Dari Uji Tunggal ke Operasi Multi‑Pesawat

Penerbangan VENOM ini menjadi landasan bagi program Artificial Intelligence Reinforcements (AIR) yang dipimpin DARPA. Dalam fase berikutnya, armada VENOM akan digunakan untuk menguji multi‑agen AI dalam skenario penerbangan langsung. Tujuan utamanya: memungkinkan pilot manusia memimpin tim pesawat nirawak otonom secara mulus dalam pertempuran udara jarak jauh.

Letnan Kolonel Patrick Highland, manajer program AIR yang baru, menegaskan bahwa pencapaian ini membuka peluang menciptakan otonomi dominan bagi operasi multi‑pesawat. Sementara itu, Terry Wilson dari Laboratorium Riset Angkatan Udara AFRL menekankan bahwa ekosistem kolaboratif antara DARPA, mitra industri, dan tim uji Eglin adalah kunci keberhasilan. Program AIR akan terus meningkatkan kecepatan pengembangan model AI dan memperluas pengujian ke operasi yang lebih kompleks, termasuk program Collaborative Combat Aircraft milik AU AS.

Mengapa Kepercayaan pada AI Tempur Sangat Krusial?

Kompleksitas pertempuran udara modern, khususnya di luar jangkauan visual, menuntut kemampuan pengambilan keputusan yang sangat cepat. AI diharapkan dapat membantu pilot mengelola banjir informasi tersebut, tetapi masih ada pertanyaan besar soal kinerja dan kepercayaan terhadap AI dalam kabut perang yang sesungguhnya.

“Uji terbang terobosan dengan F‑16 yang dimodifikasi VENOM ini memajukan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan tempur udara otonom yang tepercaya,” ujar Brigadir Jenderal James Valpiani, manajer program DARPA.

Program AIR dirancang untuk menguji agen tempur dalam skenario operasional yang relevan, menjawab pertanyaan‑pertanyaan kritis tadi, dan pada akhirnya menghadirkan kemampuan yang mencegah perang sekaligus memenangkan pertempuran.

Inspirasi bagi Pengembangan Pertahanan Indonesia

Meskipun pengembangan ini dilakukan oleh militer AS, pendekatan retrofit ala VENOM menyimpan pelajaran berharga bagi negara lain, termasuk Indonesia. Konsep kit otonomi yang dipasang pada platform yang sudah ada tanpa menyentuh perangkat lunak inti menunjukkan bahwa adopsi AI tidak selalu membutuhkan pembelian alutsista baru. Bagi Indonesia yang sedang memperkuat industri pertahanan dan mengembangkan pesawat nirawak, pendekatan ini dapat menjadi acuan dalam memodernisasi sistem secara lebih efisien. Selain itu, penekanan pada pengujian bertahap dengan keselamatan sebagai prioritas, pilot selalu siaga mengambil alih kendali, menjadi cetak biru penting dalam mengintegrasikan AI ke dalam sistem kritis yang dioperasikan manusia.

Kilasan terkait