Google Kucurkan $40 Juta untuk Genesis Mission Riset AI
Google mengucurkan $40 juta untuk Genesis Mission, mendukung riset sains AS dengan alat AI seperti AlphaFold, Gemini for Government, dan lainnya.

Google mengumumkan komitmen senilai $40 juta untuk mendukung Genesis Mission, inisiatif Gedung Putih yang bertujuan melipatgandakan kecepatan penemuan ilmiah di Amerika Serikat dalam satu dekade. Dana tersebut diberikan dalam bentuk kredit komputasi awan dan token AI kepada para peneliti di laboratorium nasional di bawah Departemen Energi AS (DOE). Inisiatif ini memperluas akses alat AI mutakhir dari Google DeepMind bagi ribuan ilmuwan, memungkinkan riset yang lebih cepat dan efisien di berbagai bidang seperti biologi, material, dan energi.
Alat AI apa saja yang disediakan Google?
Melalui komitmen ini, Google DeepMind memberikan akses in-kind kepada penerima penghargaan Genesis Mission DOE. Portofolio AI untuk sains yang disediakan mencakup lima model utama:
- AlphaEvolve - agen coding dan penemuan berbasis Gemini, dirancang untuk merancang algoritma canggih.
- AlphaFold 3 - model prediksi struktur dan interaksi protein serta biomolekul lainnya.
- AlphaGenome - alat untuk memahami variasi DNA, termasuk bagian genom non-coding, dalam membentuk biologi dan penyakit.
- WeatherNext - keluarga model AI untuk peramalan cuaca dengan akurasi tinggi.
- AlphaEarth Foundations - model AI dasar untuk pemetaan dan pemahaman planet dengan detail yang belum pernah ada sebelumnya.
Selain itu, Google juga menyediakan Gemini for Government, platform aman yang mencakup akses kursi dan token untuk puluhan ribu pengguna di laboratorium nasional DOE selama satu tahun. Platform ini mendukung pekerjaan dari bangku riset hingga administrasi fasilitas pengguna khusus yang melayani komunitas ilmiah luas.
Bagaimana AI sudah digunakan di laboratorium nasional?
Implementasi Genesis Mission sudah mulai menunjukkan dampak nyata. Di Pacific Northwest National Laboratory (PNNL), peneliti senior Dr. Henry Kvinge menggunakan AlphaEvolve untuk memetakan sistem matematika masif yang terlalu kompleks bagi eksplorasi manual. AI membongkar koneksi tersembunyi secara otomatis, mempercepat penemuan yang biasanya butuh waktu bertahun-tahun.
"Matematika modern bergantung pada abstraksi, tetapi kombinatorik menawarkan model konkret yang membuat geometri dan aljabar kompleks lebih mudah dipahami. Kami menemukan bahwa sistem seperti AlphaEvolve sangat cocok untuk pencarian ini," ujar Kvinge. "Dengan memanfaatkan pengetahuan matematika luas dari LLM, kami bisa mengotomatiskan eksplorasi dari berbagai sudut. Kami masih bereksperimen, tetapi penemuannya sudah membentuk riset kami ke depan."
Sementara itu, di National Laboratory of the Rockies (NLR), Dr. Steven R. Spurgeon, ilmuwan data material senior, memimpin program penemuan material otonom. Dengan Gemini, timnya berhasil memangkas waktu kalibrasi mikroskop dari lebih 90 menit menjadi sekitar 13 menit - delapan kali lebih cepat - dan mengurangi langkah manual untuk memfokuskan gambar dari hingga 50 langkah menjadi hanya dua.
"Kolaborasi kami memungkinkan pembangunan kapabilitas eksperimen otonom," kata Spurgeon. "Dengan menerapkan Gemini di instrumen kami, kami memotong waktu kalibrasi mikroskop secara drastis dan mengurangi langkah manual yang dibutuhkan. Ini adalah waktu dan perhatian yang kami kembalikan kepada sains itu sendiri, memungkinkan alur kerja otonom yang mengamati, menalar, dan memutuskan secara real-time. Ini membantu kami menjelajahi bagian ruang desain material yang sebelumnya tidak mungkin dijangkau secara manual."
Komitmen jangka panjang untuk ekosistem riset nasional
Komitmen $40 juta ini merupakan perluasan dari program akses awal yang telah diumumkan sebelumnya. Google DeepMind telah membuka alat AI untuk seluruh 17 Laboratorium Nasional DOE, dan Google Public Sector telah menunjukkan bagaimana Gemini for Government dapat menjadi tulang punggung AI bagi DOE. Pada KTT Genesis Mission 2026 di DOE, Google menegaskan dukungan jangka panjang ini untuk mentransformasi riset di seluruh Amerika, meliputi tantangan energi, keamanan, dan sains fundamental.
Apa artinya bagi pengembang dan peneliti di Indonesia?
Bagi Indonesia, inisiatif seperti Genesis Mission menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan industri dalam memajukan riset berbasis AI. Model-model seperti AlphaFold telah tersedia secara global dan telah dimanfaatkan oleh peneliti di Indonesia untuk studi struktur protein. Kehadiran alat prediktif dan agen penemuan berbasis AI membuka peluang serupa di bidang lain, seperti pemetaan lingkungan, cuaca, dan material. Meskipun komitmen Google kali ini spesifik untuk laboratorium DOE, pendekatan penyediaan platform AI aman bagi ribuan peneliti dapat menjadi cetak biru bagi negara lain yang ingin mengakselerasi inovasi sains melalui teknologi.